Kutai Timur Siap Menjadi Pusat Hilirisasi Energi Nasional dengan DME sebagai Pengganti LPG
SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) di Kalimantan Timur bersiap untuk menjadi pusat hilirisasi energi nasional melalui proyek konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan memperkuat kemandirian energi nasional.
Tenaga Ahli Sekretariat Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi, M. Fadhil Hasan, menjelaskan bahwa hilirisasi merupakan strategi utama dalam pembangunan nasional. Proyek DME di Kutim dirancang untuk menjadi solusi substitusi LPG di Indonesia dengan target konversi penuh pada tahun 2040.
Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai salah satu dari 18 proyek prioritas nasional dengan nilai investasi mencapai 10,25 miliar dolar AS, atau sekitar Rp164 triliun. Proyek ini diproyeksikan dapat menyerap sekitar 34.800 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Selain menghasilkan DME, strategi hilirisasi batu bara juga diarahkan untuk menghasilkan metanol yang dapat diolah menjadi biodiesel, serta grafit sintetik yang merupakan komponen vital dalam produksi baterai kendaraan listrik. Batu bara berkalori rendah (lignit) yang banyak ditemukan di Kalimantan Timur juga akan dimanfaatkan untuk memproduksi amonia hijau, yang lebih ramah lingkungan.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyatakan kesiapan pemerintah kabupaten dalam menyambut pembangunan pabrik DME. Proyek pabrik DME sebenarnya telah direncanakan sejak tahun 2020 di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, dan menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan target rampung pada tahun 2024. Meskipun sempat mengalami penundaan karena investor asal Amerika, Air Products and Chemicals, menarik diri, kini ada minat dari investor asal China untuk melanjutkan proyek tersebut.
Ardiansyah menegaskan bahwa meskipun belum ada koordinasi terbaru dari pemerintah pusat, Kutai Timur tetap siap untuk menjadi pusat hilirisasi energi nasional. Ia optimis bahwa proyek gasifikasi batu bara menjadi DME akan membawa transformasi ekonomi bagi daerah tersebut.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah pusat dan kesiapan di tingkat daerah, Kutai Timur berada di jalur yang tepat untuk menjadi bukan hanya penghasil energi, tetapi juga pusat inovasi energi masa depan Indonesia.




