Konflik Iran-AS-Israel Pengaruhi Kecepatan Proyek Properti di Tanah Air
Sentra News Day - JAKARTA, KOMPAS.com - Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai mulai berdampak pada sektor properti dalam negeri.
Para pengembang disebut cenderung memperlambat peluncuran proyek baru, meski belum sampai pada tahap penghentian total (hold).
"Mungkin diperlambat ya, bukan langsung di-hold," ujar Bambang saat dihubungi Kompas.com, Senin (02/03/2026).
Selain itu, dampak konflik global bisa terasa langsung maupun tidak langsung terhadap industri properti.
Menurut Bambang, dampak langsung paling terasa berasal dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu lonjakan biaya transportasi.
"Secara langsung lebih ke biaya transportasi. Karena dengan BBM naik, biaya angkut naik. Sedangkan material pembangunan semuanya berat-berat, seperti semen, pasir, besi baja, keramik dan lain-lain, akan berpengaruh terhadap biaya pembangunan," ujar Bambang.
Kenaikan ongkos distribusi material tersebut, lanjut dia, secara otomatis akan mendorong peningkatan harga jual properti. Terlebih apabila perang berlangsung lama dan harga minyak dunia kembali menembus tiga digit per barel.
"Sehingga otomatis harga properti juga ikut naik jika perang berkepanjangan dan harga minyak dunia tembus lagi tiga digit per barelnya," katanya.
Bambang bahkan menyebut, harga minyak berpotensi melonjak tajam apabila konflik tidak segera mereda.
"Minyak diramalkan naik sampai 10 kali lipat kalau perang berkepanjangan. Properti langsung enggak punya harga," ucap dia.
Selain dampak langsung terhadap biaya pembangunan, Bambang juga menyoroti efek tidak langsung dari ketidakstabilan ekonomi global.
Menurut dia, gonjang-ganjing perekonomian dunia berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut pada akhirnya bisa berimbas pada meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menurunnya daya beli masyarakat.
"Ujung-ujungnya akan banyak PHK, daya beli menurun, dan pasar properti juga terpukul. Calon pembeli properti akan wait and see," kata Bambang.
Timur Tengah Memanas
Sebelumnya diberitakan Kompas.com, Iran menjadi sasaran serangan Israel dan AS pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
Israel menjadi pihak yang pertama kali mengonfirmasi bahwa negaranya resmi menyerang Iran.




