Kesadaran Bersama dalam Pengelolaan Sampah dan Peran Media Sosial
oleh
Oleh: Gusti Syahwani (Wartawan Dayak News Kotawaringin Barat)
Dayak News – Sampah masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang kerap muncul di tengah masyarakat. Pemandangan sampah berserakan bukan lagi hal asing, terutama di lahan-lahan kosong yang tidak dimanfaatkan, bahkan di atas tanah milik warga. Tanpa izin dan tanpa rasa tanggung jawab, lokasi tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah liar hingga menumpuk, menimbulkan bau tidak sedap, serta mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.
Fenomena ini mencerminkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan. Padahal, dampak sampah tidak hanya sebatas bau menyengat, tetapi juga berpotensi menimbulkan penyakit, mencemari tanah, serta merusak estetika lingkungan.
Ketika tumpukan sampah dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan, warga pun mulai bereaksi. Media sosial, khususnya Facebook, menjadi sarana paling cepat untuk menyuarakan keluhan. Foto-foto sampah diunggah, lokasi ditandai, disertai pertanyaan dan keluhan bernada keresahan.
Unggahan tersebut kerap mendapat perhatian luas dari warganet dan memicu diskusi publik.
Menariknya, dalam banyak kasus, setelah laporan warga ramai diperbincangkan di media sosial, penanganan di lapangan terlihat berlangsung lebih cepat.
Sampah diangkut, area dibersihkan, dan aktivitas pembersihan pun dilakukan. Hal ini kemudian memunculkan persepsi di tengah masyarakat bahwa persoalan sampah akan lebih cepat ditangani ketika sudah mendapat perhatian publik di dunia maya.
Kondisi ini tentu patut menjadi bahan refleksi bersama. Pengelolaan sampah sejatinya merupakan tanggung jawab kolektif. Masyarakat wajib membuang sampah pada tempatnya dan menjaga lingkungan sekitar, sementara pemerintah melalui dinas terkait diharapkan terus meningkatkan pengawasan, respons, serta sistem penanganan yang berkelanjutan tanpa harus menunggu keluhan viral.
Media sosial seharusnya berfungsi sebagai sarana edukasi, pelaporan, dan kontrol sosial yang positif, bukan menjadi satu-satunya pemicu tindakan. Lingkungan yang bersih dan sehat tidak lahir dari viralitas semata, melainkan dari kesadaran, kepedulian, dan kerja bersama antara masyarakat dan pemerintah.
Jika semua pihak mengambil peran sesuai tanggung jawabnya, persoalan sampah bukan lagi menjadi bahan keluhan, melainkan bisa diubah menjadi bukti nyata kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bersama. (*)
Ditag opini pengelolaan sampah sampah
Posting Terkait
Suara Warga di Medsos dan Realitas Harga Pertalite: Antara Kebutuhan dan Tantangan Distribusi
KIT Batang dan Indonesia Emas: Jemput Takdir di Jalur Nadi Dunia
Konseptualisasi Idul Fitri: Pitagurasi Demokrasi dan Visi Indonesia Emas
Perebutan Kekuasaan dalam Kesultanan: Refleksi Historis tentang Legitimasi dan Musyawarah Adat
Memahami Logika Diplomasi Indonesia
oleh Dayaknews
Ikuti Kami Pada
Navigasi pos
Pos sebelumnya Pamapta Polresta Palangka Raya Gagalkan Aksi Pembobolan Barak di Jalan Piranha
Pos berikutnya Geger, Seorang Sopir Angkutan Ditemukan Meninggal Dunia di Toilet Toko Sembako Jalan Tjilik Riwut
Jangan Lewatkan
Suara Warga di Medsos dan Realitas Harga Pertalite: Antara Kebutuhan dan Tantangan Distribusi
Kartini dan Perjuangan Perempuan Masa Kini: Sebuah Refleksi
Mengenang Prof. Dr. Birutė Mary Galdikas, Ilmuwan Dunia yang Mengabdikan Hidup untuk Orangutan Kalimantan
KIT Batang dan Indonesia Emas: Jemput Takdir di Jalur Nadi Dunia
Konseptualisasi Idul Fitri: Pitagurasi Demokrasi dan Visi Indonesia Emas




