Kejatuhan Startup Pertanian: Pelajaran Penting untuk Masa Depan Agrikultur Indonesia
Sumber Foto: Kompasiana.com
Teknologi

Kejatuhan Startup Pertanian: Pelajaran Penting untuk Masa Depan Agrikultur Indonesia

Penulis : Aif Arifin Sidhik, Rahmi, Yayan Firmansyah, Yohanes Baptista Anton Dewantoro

Beberapa tahun terakhir, semangat membenahi sektor pertanian Indonesia melalui inovasi teknologi tumbuh pesat. Para anak muda bermunculan sebagai agripreneur, membentuk startup seperti eFishery, TaniHub, dan Pitik Digital. Ketiganya hadir dengan janji: menyelesaikan masalah panjang petani kecil — dari tengkulak, keterbatasan pasar, hingga minimnya teknologi. Namun tahun 2024 menjadi titik balik pahit. Tiga startup yang dulu dielu-elukan itu justru tumbang nyaris bersamaan. eFishery terjerat skandal keuangan. TaniHub kolaps dan ditinggalkan investornya. Pitik Digital tak mampu bertahan di tengah krisis harga ayam dan inefisiensi operasional.

Di balik kejatuhan itu tersimpan pelajaran penting — tidak hanya bagi pelaku startup, tapi juga bagi pemerintah dan masyarakat yang menaruh harapan pada agripreneurship.

eFishery sempat menjadi simbol sukses startup teknologi di bidang perikanan. Dengan alat pemberi pakan ikan otomatis berbasis IoT, mereka mampu menarik investasi besar dan mencapai status unicorn. Namun pada awal 2024, laporan investigasi mengungkap manipulasi data jumlah pengguna dan efektivitas alat. Banyak kolam yang sebenarnya tidak aktif dilaporkan sebagai pelanggan aktif. Manajemen keuangan pun dinilai tidak transparan. Ribuan mitra pembudidaya kehilangan akses pembiayaan dan pasar.

TaniHub menghadapi masalah serupa. Mereka terlalu cepat berekspansi, bahkan meluncurkan layanan fintech lewat TaniFund. Ketika kredit bermasalah membengkak dan pengelolaan risiko lemah, OJK mencabut izin operasional TaniFund. Ribuan petani yang meminjam modal mendadak kehilangan saluran keuangan. Sejumlah laporan menyebut TaniHub menutup beberapa gudang dan memangkas tenaga kerja secara drastis.

Sementara itu, Pitik Digital — startup peternakan ayam berbasis teknologi — gagal bertahan setelah harga ayam anjlok dan biaya operasional membengkak. Sistem rantai pasok yang semula dianggap unggul, ternyata boros dan terlalu terpusat. Tanpa cadangan kas yang cukup dan investor yang mulai ragu, mereka akhirnya menghentikan operasional.

Di Mana Letak Kesalahannya?

Pertama, tata kelola lemah. Startup digital seringkali lebih fokus pada pertumbuhan dan valuasi ketimbang membangun fondasi tata kelola yang kuat. Manipulasi data, laporan keuangan yang tidak transparan, serta kurangnya pengawasan internal adalah bom waktu. Sebagaimana disampaikan oleh Mohammad (2024), pendekatan pencegahan penipuan di sektor fintech harus berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi tren lebih dini dan mencegah eskalasi risiko secara sistemik (Mohammad, 2024).

Kedua, teknologi tanpa pendampingan. Banyak petani dan peternak di Indonesia belum terbiasa dengan teknologi digital. Literasi rendah, infrastruktur terbatas, dan kurangnya edukasi membuat banyak inovasi gagal diadopsi. Studi oleh Maldonado et al. (2025) menekankan pentingnya pendidikan keamanan digital dan investasi jangka panjang dalam transformasi digital agar teknologi benar-benar bermanfaat bagi masyarakat rentan (Maldonado et al., 2025).

Ketiga, model bisnis tidak tahan guncangan. Agrikultur adalah sektor dengan margin tipis dan risiko tinggi. Ketika startup hanya mengandalkan investasi eksternal tanpa arus kas sehat, satu krisis saja — entah itu musim buruk, fluktuasi harga, atau perubahan regulasi — bisa menjatuhkan seluruh sistem.