Investor Perketat Seleksi Startup Pasca Kasus Fraud, Maturation Map Diterapkan
Sumber Foto: Katadata.co.id
Teknologi

Investor Perketat Seleksi Startup Pasca Kasus Fraud, Maturation Map Diterapkan

Ringkasan

Kasus fraud di sejumlah startup digital telah menurunkan kepercayaan investor, yang menyebabkan nilai investasi di Indonesia anjlok secara signifikan. Hal ini mengakibatkan posisi Indonesia turun ke peringkat kelima di Asia Tenggara dari sisi nilai transaksi.

Akibatnya, investor menjadi lebih berhati-hati dan cenderung memilih sektor yang lebih mudah dipahami seperti New Retail. Mereka juga lebih banyak menyasar pendanaan tahap Series A dan awal Series B yang dinilai lebih seimbang dari sisi risiko dan valuasi.

Untuk memulihkan kepercayaan, asosiasi modal ventura di Asia Tenggara menyusun maturation map sebagai pedoman standar tata kelola bagi startup. Peta ini mengatur peningkatan kompleksitas struktur organisasi dan pelaporan yang harus dipenuhi seiring pertumbuhan startup.

! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI

Sejumlah kasus fraud di dunia digital seperti Investree dan eFishery, menurunkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di startup Indonesia. Asosiasi modal ventura di Indonesia bersama mitra di Singapura, Thailand, Vietnam, dan Malaysia menyusun pemetaan atau maturation map sebagai pedoman seleksi investasi ke startup.

Direktur BNI Venture, Eddi Danusaputro, menyatakan berbagai kasus di dunia startup memicu kehati-hatian berlebihan dari investor asing terhadap pasar Indonesia.

“Investor asing menjadi sangat berhati-hati. Kepercayaan diri mereka ke ekosistem startup Indonesia nyatanya turun,” ujar Eddi dalam diskusi Catatan Akhir Tahun 2025 IFSoc di Jakarta Selatan, beberapa Waktu lalu.

Penurunan kepercayaan ini menurutnya tercermin dalam data investasi startup digital sepanjang semester pertama 2025. Secara jumlah transaksi, Indonesia masih berada di posisi kedua di Asia Tenggara. Namun dari sisi nilai transaksi, Indonesia telah turun ke posisi kelima, disalip oleh Filipina, Vietnam, dan Malaysia. Padahal sebelumnya Indonesia konsisten berada di peringkat dua atau tiga.

Menurut Eddi, penurunan ini menunjukkan adanya masalah struktural dalam ekosistem, terutama terkait tata kelola dan kesiapan startup yang menerima pendanaan.

Laporan Pendanaan Startup Asia Tenggara Semester I 2025 DealSreetAsia bersama Kickstart Ventures juga mencatat, investasi startup Indonesia kalah dari Filipina selama semester pertama tahun ini.

Secara keseluruhan, pendanaan ke startup Asia Tenggara mencapai US$ 1,85 miliar sepanjang Januari – Juni. Rinciannya sebagai berikut:

Singapura US$ 1,2 miliar atau turun 44% secara tahunan alias year on year (yoy)

Vietnam US$ 275 juta atau naik 169% yoy

Malaysia US$ 196 juta, meningkat dua kali lipat

Filipina US$ 86,4 juta

Indonesia US$ 78,5 juta, turun 67% yoy

Thailand US$ 10 juta

Dalam kondisi tersebut, menurut Eddi investor cenderung memilih sektor yang dianggap lebih mudah dipahami dan memiliki risiko lebih rendah. Salah satunya adalah New Retail, istilah baru untuk bisnis konvensional seperti F&B. Brand seperti Kopi Kenangan hingga Sei Sapi disebut mengalami oversubscription karena model bisnisnya dinilai jelas.

“Investor merasa lebih aman karena mereka mengerti bisnisnya. Secara implisit, risiko dibohongi founder juga dianggap lebih kecil,” Eddi menambahkan.

Dari sisi tahapan pendanaan, investor kini paling banyak membidik Series A dan awal Series B. Seed stage dinilai terlalu berisiko, sementara late stage dianggap mahal karena valuasi sudah tinggi.

Maturation Map: Standar Kedewasaan Startup

Maturation Map dibentuk oleh Singapore Venture & Private Capital Association (SVCA) bersama Amvesindo (Indonesia), TVCA (Thailand), VPCA (Vietnam), dan MVCA (Malaysia), untuk menyajikan rekomendasi praktis yang ditujukan bagi pendiri startup, investor, konsultan, dan regulator.

Maturation map mengatur bahwa semakin mature sebuah startup, semakin kompleks pula tata kelola yang harus dimiliki. “Contohnya, startup tahap awal mungkin belum mampu menyusun laporan keuangan teraudit. Namun jika sudah mencapai Series C dan masih belum diaudit, hal itu menjadi persoalan serius,” kata dia.

Struktur organisasi juga disebutnya menjadi perhatian dalam tahapan pendanaan ini. Startup seed yang hanya memiliki satu atau dua direksi masih dianggap wajar. Namun pada tahap Series A, keberadaan dewan komisaris menjadi penting.

“Memasuki Series B, startup idealnya sudah memiliki komisaris independen serta struktur manajemen yang lebih lengkap,” kata Eddi.

Selain itu, startup yang sudah menghasilkan pendapatan seharusnya memiliki laporan arus kas bulanan. Namun Eddi mengungkapkan, masih banyak startup yang belum memenuhi standar dasar tersebut.

“Seiring pertumbuhan, governance, perangkat, dan dokumentasi juga harus bertambah. Itu inti dari maturation map,” ujarnya.

Tahapan dan Standar Kematangan Startup:

Maturation map disebut Eddie bukan untuk membebani startup, melainkan sebagai bentuk pengawasan regulator dan mempermudah profesi penunjang seperti auditor, konsultan hukum, dan compliance officer.