KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iklim bisnis industri modal ventura (MV) dilaporkan telah berubah arah.
Pergeseran ini terutama dipicu oleh fenomena "Tech Winter," yakni tantangan akibat tekanan ekonomi global yang menyebabkan pelemahan di sektor teknologi (tech) dan penurunan valuasi startup.
Perubahan strategi MV kini lebih menekankan pada keberlanjutan dan profitabilitas calon perusahaan investasi.
Pergeseran Fokus Pendanaan
Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) membenarkan adanya pergeseran strategi, di mana sebagian modal ventura kini lebih memilih mendanai startup yang sudah menunjukkan jalur pertumbuhan (growth) yang jelas.
Ketua Umum Amvesindo, Eddi Danusaputro, menjelaskan bahwa MV mulai lebih fokus ke growth stage daripada early stage atau seed stage.
"Betul, ada yang bergeser ke tahap lebih growth, tetapi tidak semua. Masih cukup banyak yang bermain di seed (startup tahap awal)," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (18/11/2025).
Menurut Eddi, pendanaan di early stage dianggap lebih riskan. Sementara itu, startup di growth stage sudah memiliki potensi profit atau setidaknya memiliki peta jalan yang jelas menuju profitabilitas.
Meskipun demikian, ia optimis bisnis modal ventura masih memiliki peluang cerah tahun depan di tengah potensi tekanan tech winter.
Senada dengan Amvesindo, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menegaskan perubahan iklim bisnis ini tak terlepas dari tech winter.
Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, menyebut fenomena ini terjadi secara global dalam 12 bulan terakhir.
"Bisnis venture sekarang sudah berubah, baik di dunia maupun Indonesia. Mereka (modal ventura) mencoba mencari bisnis yang profitabilitasnya jelas," ujar Pandu, Kamis (13/11/2025).
Pandu menambahkan, sektor yang kini menarik bagi investor MV adalah tech growth dan bukan lagi tech venture murni.
Investor melihat sektor tech growth memiliki risiko yang lebih terkendali dan menjanjikan.
Jika model bisnis startup sudah teruji, pendanaan akan langsung disalurkan oleh tech growth funding.
"Jadi, sekarang ada tema baru bukan lagi venture risk, melainkan dilakukan growth risk yang dicari oleh banyak venture," jelas Pandu.
Selain itu, ia melihat adanya peluang besar di bisnis aplikasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence /AI) di Indonesia, yang membuat modal ventura makin gencar mencari peluang di sektor tersebut.
Kinerja Keuangan Industri Modal Ventura Menanjak
Di tengah perubahan strategi ini, kinerja keuangan industri modal ventura secara keseluruhan menunjukkan tren positif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, industri modal ventura berhasil mencetak laba yang terus meningkat hingga Kuartal III-2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menerangkan bahwa perolehan laba didorong oleh peningkatan evaluasi portofolio investee (perusahaan penerima pendanaan).
Berikut adalah detail peningkatan laba industri modal ventura pada tahun 2025:
Periode Laba Bersih (Rp Miliar)
Februari 2025 137,0
Juni 2025 315,0
Agustus 2025 474,37
September 2025 474,4*
*Perolehan laba per September 2025 naik tipis 0,01% secara bulanan (MoM).
Selain laba, OJK juga mencatat nilai penyaluran pembiayaan modal ventura berhasil tumbuh positif.
Nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp 16,29 triliun per September 2025, yang berarti tumbuh sebesar 0,21% secara tahunan (Year on Year /YoY).