Harga Kakao di Jembrana Mencapai Rp 150.000 Per Kg, Didorong Permintaan Pasar Global
Sumber Foto: Media Perkebunan
Sentra Hari

Harga Kakao di Jembrana Mencapai Rp 150.000 Per Kg, Didorong Permintaan Pasar Global

Jembrana, Bali – Provinsi Bali, yang dikenal sebagai pusat pariwisata nasional, kini mencatatkan perkembangan positif dalam perdagangan komoditas kakao. Dalam beberapa hari terakhir, harga kakao di tingkat petani di Kabupaten Jembrana mencapai Rp 150.000 per kilogram (kg).

Kenaikan harga ini dianggap luar biasa dan terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan dari pasar global. Menurut I Komang Arida, Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, meskipun harga kakao telah meningkat, produksi kakao premium di Jembrana belum sepenuhnya memenuhi permintaan ekspor. Pada tahun sebelumnya, produksi kakao premium yang terserap hanya mencapai 150 ton, atau sekitar 50 persen dari total permintaan ekspor yang mencapai 300 ton.

“Meski harga dan produksi kakao petani Jembrana sudah meningkat dibandingkan tahun lalu, kami terus mendorong petani untuk menjaga kualitas agar dapat mempertahankan pasar ekspor,” ungkap Arida.

Arida menambahkan, dengan harga kakao yang tinggi saat ini, petani merasakan manfaatnya, dan produksi kakao untuk pasar ekspor mulai meningkat. Namun, penting bagi petani, terutama yang tergabung dalam Subak Abian, untuk tetap mempertahankan kualitas dengan melakukan proses fermentasi kakao.

Kenaikan harga kakao tidak hanya terjadi di Kabupaten Jembrana, tetapi juga di seluruh wilayah Asia, disebabkan oleh kondisi global yang membuat permintaan meningkat sementara ketersediaan terbatas. Saat ini, harga kakao mencapai Rp 150 ribu per kg untuk biji kakao kering yang belum melalui proses fermentasi, meningkat dari sebelumnya yang berkisar Rp 45.000 per kg.

Pemerintah Kabupaten Jembrana juga memberikan dukungan kepada petani melalui bantuan sarana dan prasarana di kelompok petani (Poktan) atau subak, untuk memproduksi kakao fermentasi. Meskipun harga biji kakao kering yang tidak difermentasi telah naik, proses fermentasi tetap harus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasar ekspor.

Data dari Bidang Perkebunan Kabupaten Jembrana menunjukkan bahwa saat ini terdapat 6.341 hektar kebun kakao yang tersebar di sejumlah Subak Abian. Pada tahun 2024, Kabupaten Jembrana berhasil menghasilkan 3.006 ton kakao, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 2.000 ton.