GITEX Asia 2025 di Singapura Dorong Startup Asia Tenggara Tembus Pasar Global
Sumber Foto: Kompas.id
Teknologi

GITEX Asia 2025 di Singapura Dorong Startup Asia Tenggara Tembus Pasar Global

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara dinilai memiliki peluang besar mengembangkan perusahaan rintisan.

Oleh Vina Oktavia dari Singapura

25 Apr 2025 09:47 WIB · Nusantara

GITEX Asia 2025 x AI Everything Singapore, yang digelar pada 23-25 April 2025 di Marina Bay Sands, Singapura, menjadi pameran teknologi dan ”startup” terbesar di Asia. Ajang itu adalah panggung bagi perusahaan rintisan atau ”startup” dari berbagai negara untuk melangkah ke kancah global.

Ajang yang mengusung tema ”Advancing Bold Partnerships in Asia” itu diselenggarakan oleh Dubai World Trade Centre (DWTC) dan KAOUN International yang berafiliasi dengan GITEX GLOBAL. Dalam ajang tersebut, para peserta dapat menjajaki peluang kolaborasi, mengkaji terobosan terbaru llintas sektor, memasuki pasar baru, hingga mengakses pendanaan dari investor.

Kegiatan itu diikuti oleh lebih dari 700 perusahaan dan startup. Selain itu, ada sekitar 400 pembicara ahli global dan lebih dari 250 investor yang hadir. Acara itu diikuti oleh lebih dari 70 negara dan dihadiri oleh sekitar 25.000 orang.

Di antara ratusan perusahaan rintisan, beberapa startup dari Indonesia turut ”unjuk gigi” mengikuti ajang tersebut. Salah satunya adalah Fair Indonesia, platform pemasaran influencer digital berbasis website yang dirancang untuk membantu sebuah brand menjalankan kampanye atau promosi berbasis data. Platfom itu dibangun untuk membangun ekosistem dan menciptakan solusi antara brand dan kreator konten di era digital.

Founder sekaligus Chief Executive Officer Fair Indonesia Refal Tamara Putra sibuk meladeni pengunjung yang silih berganti datang ke stan. Dengan antusias, Refal mengenalkan Fair kepada setiap orang yang bertanya tentang kegunaan platform itu.

Untuk meyakinkan para pengunjung, Refal juga tidak segan-segan mendemokan cara penggunaan hingga menjelaskan harga dan jenis layanan yang tersedia di situs fair-indonesia.com. Di akhir perbincangan, pemuda itu juga memberikan kartu nama bagi para pengunjung yang datang ke stan pameran.

”Jangan sungkan untuk menghubungi saya lagi kapan pun,” ucap Refal pada beberapa pengunjung yang mampir ke stan Fair.

Refal mengatakan, Fair Indonesia dirancang pada tahun 2023 dan tahun ini akan menapaki usia dua tahun. Hingga saat ini, platform tersebut sudah diakses oleh sekitar 7.000 pengguna. Sebagian besar para pelanggannya merupakan perusahaan kosmetik dan perusahaan penyedia layanan jasa (agency).

”Kami merasa platform ini cukup berkembang di Indonesia sehingga kami memutuskan untuk berekspansi ke kawasan Asia Tenggara. Semoga ini menjadi peluang yang baik,” kata Refal saat ditemui di sela-sela pameran, Kamis (24/4/2025), di Singapura.

Refal menceritakan, ide untuk membuat platform tersebut bermula saat dia mengetahui berbagai persoalan seputar pemasaran influencer. Selama ini, sebuah brand sering kali menentukan key opinion leader (KOL) tanpa data yang valid.

Hal itu membuat kampanye atau promosi yang sudah dilakukan tidak begitu berdampak sigfinikan karena berbagai alasan. Misalnya, influencer yang dipilih tidak sesuai dengan target pasar atau ketidaksesuaian topik yang sering diulas oleh influencer dengan brand.

”Dari situ saya merasa industri ini membutuhkan tools untuk mempermudah analisis data seputar pemasan influencer,” ucapnya.

Fair menyediakan berbagai fitur, antara lain creator discovery yang memungkinkan pengguna mencari influencer dari berbagai belahan dunia berdasarkan karakteristik pengikut, kota asal, atau ketertarikan topik di berbagai media sosial, seperti Instagram, Tiktok, dan Youtube.

Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam platform tersebut membuat pencarian influencer bisa dilakukan dengan satu klik saja dalam waktu kurang dari satu menit.

Berbagai fitur lain yang tersedia, yakni analyser untuk mengecek dan menganalisis hasil kampanye digital yang dilakukan influencer serta outreach yang dapat digunakan untuk mencari tahu tentang tarif para influencer.

Refal mengatakan, tujuan utamanya mengikuti ajang GITEX Asia 2025 x AI Everything Singapore memang untuk mengenalkan platform Fair Indonesia pada masyarakat global. Selama dua hari mengikuti pameran, Refal menyebut cukup banyak orang dari berbagai negara yang tertarik dengan Fair.

”Acara ini sangat bagus untuk ajang promosi dan menjalin kemitraan. Kami berharap semoga bisa ikut event-event GITEX selanjutnya,” kata Refal.

GITEX Asia 2025 x Ai Everything Singapore tidak hanya menjadi ajang bagi para startup untuk melangkah ke kancah global. Dalam ajang tersebut, perusahaan teknologi juga memamerkan berbagai teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Baca Juga Gitex 2025, Barometer Ekonomi Digital Asia Tenggara

Salah satunya adalah Unitree Robotics, perusahaan robotika asal China yang memproduksi robot humanoid yang menyerupai bentuk dan perilaku manusia. Sejumlah robot yang dipamerkan mempunyai kemampuan untuk melakukan berbagai gerakan kompleks, seperti berjalan, berlari, atau berkomunikasi dengan manusia. Robot-robot canggih itu diciptakan untuk meningkatkan produktivitas hingga otomatisasi industri.

Selama ini, China memang menjadi negara di Asia yang mampu menujukkan dominasinya dalam pengembangan industri teknologi dan kecerdasan buatan. Ke depan, negara-negara di kawasan Asia Tenggara dinilai memiliki peluang besar mengembangkan perusahaan rintisan.

World Economic Forum memprediksi, nilai barang dagangan kotor (GMV) di Asia Tenggara dapat mencapai 1 triliun dollar AS pada 2030. Sementara data riset juga mencatat, pendanaan venture capital regional di kawasan Asia Tenggara diperkirakan dapat menembus angka 13,7 miliar dollar AS pada tahun 2025. Di tahun yang sama, Citigroup juga memperkirakan bahwa pendanaan teknologi di Asia akan meningkat sebesar 10 persen secara tahunan.

Ini komitmen kami untuk menyatukan ekosistem, negara, dan kota global, memberdayakan modal manusia, melakukan tolok ukur dengan dunia, dan menjalin aliansi, hubungan, ide, dan peluang baru sekaligus menjadikan seluruh jagat AI global jauh lebih besar dan lebih kompetitif.

Managing Director Techstars Tokyo Accelerator Yuki Shirato, salah satu pembicara ahli internasional yang berpartisipasi pada ajang GITEX Asia 2025 x Ai Everything Singapore, menyampaikan, perusahaan rintisan di kawasan Asia Tenggara berpotensi berkembang pesat seiring masifnya pemanfaataan kecerdasan buatan.

”Pertanyaannya ke depan adalah ke mana mereka akan menargetkan. Dari sudut pandang ASEAN, pasar yang terus berkembang, dengan persaingan, investasi, dan inisiatif yang didukung pemerintah yang meningkat seiring dengan populasi orang muda yang melek teknologi,” kata Yuki.

Techstars Tokyo Accelerator yang berbasis di Tokyo, Jepang, telah mengidentifikasi mitra ekosistem startup dan mendukung mereka untuk berkembang, maju, dan mewujudkan potensi penuh di kawasan Asia Pasifik. Pihaknya telah mendirikan tiga startup yang didukung oleh modal ventura, memberikan pendampingan kepada 20 startup lainnya, dan menjadi investor untuk 50 perusahaan tahap awal, termasuk juga beberapa perusahaan di Asia Tenggara.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia menyaksikan perusahaan dagang elektronik, teknologi finansial, layanan kesehatan, dan layanan komputasi awan (cloud) telah menjadi segmen pemikat investasi di ASEAN.

”Beberapa bidang sangat menarik karena saya melihat banyak perusahaan rintisan yang menarik dari Asia,” ungkapnya. Saya yakin bidang-bidang tersebut adalah robotika, manufaktur canggih, pertanian, energi, dan hiburan. Yang terakhir termasuk game, anime, dan manga,” katanya.

Executive Vice President of DWTC & CEO of KAOUN International Trixie LohMirmand saat acara pembukaan GITEX Asia 2025 x AI Everything Singapore menyampaikan kegembiraanya karena dapat meluncurkan ajang investasi teknologi, startup, dan digital terbesar di Asia. Ajang itu membuka peluang untuk berkolaborasi dan mendorong kemitraan lintas industri hingga lintas benua.

”Ini komitmen kami untuk menyatukan ekosistem, negara, dan kota global, memberdayakan modal manusia, melakukan tolok ukur dengan dunia, dan menjalin aliansi, hubungan, ide, dan peluang baru sekaligus menjadikan seluruh jagat AI global jauh lebih besar dan lebih kompetitif,” katanya.

Selama tiga hari, GITEX ASIA x AI Everything Singapore menyelenggarakan debat-debat hebat seputar topik paling mendesak dalam teknologi. Para pemimpin teknologi, pendiri, investor, pejabat lembaga digital nasional, dan regulator diundang untuk membahas perkembangan dan persaingan seputar pemenfaatan kecerdasan buatan, perkembangan ekonomi digital, serta berbagai tantangan yang dihadapi di masa depan.

Setelah Singapura, Vietnam bakal menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraaan GITEX selanjutnya. Ajang GITEX Vietnam, menurut rencana, bakal digelar di Hanoi pada 1-2 Oktober 2026.

GITEX akan terus berekspansi ke negara-negara lain untuk mendorong kemajuan ekonomi digital di dunia. Ajang GITEX akan terus membawa startup melangkahkan kaki ke panggung teknologi global.

Baca Juga Pacu Pengembangan Ekonomi Digital, Vietnam Siap Jadi Tuan Rumah GITEX 2026

GITEX Asia 2025 Fair Indonesia Pameran teknologi dan startup Dubai World Trade Centre

Kerabat Kerja

Penulis:

Vina Oktavia dari Singapura

|

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum

|

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .