Faktor Penyebab PHK Massal di Startup: Lebih dari Sekadar Efisiensi
Gelombang PHK di startup terus berulang, meski banyak perusahaan teknologi sebenarnya tidak berada di ambang kebangkrutan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar tentang apa yang sebenarnya mendorong startup mengambil keputusan ekstrem tersebut.
Tekanan pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi masih terus berlangsung hingga 2025.
Berdasarkan catatan Layoffs.fyi, sebuah lembaga independen yang memantau PHK global, sepanjang tahun lalu lebih dari 150 ribu pekerja kehilangan pekerjaan di ratusan perusahaan teknologi.
Memasuki tahun ini, tren tersebut belum mereda. Hingga awal 2025, tercatat lebih dari 22 ribu pekerja terdampak PHK, dengan lonjakan signifikan yang terjadi pada Februari, ketika belasan ribu kasus PHK dilaporkan hanya dalam satu bulan.
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan teknologi raksasa, tetapi juga menyasar startup yang sebelumnya identik dengan pertumbuhan cepat.
Sejumlah pakar manajemen dan ekonomi yang diwawancarai The Verge menilai bahwa maraknya PHK di startup maupun perusahaan besar, seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon bukan sekadar akibat pelemahan ekonomi, melainkan menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam cara perusahaan mengelola ekspansi bisnisnya.
Lantas, apa yang sebenarnya mendorong banyak startup mengambil langkah PHK secara masif?
Kenapa Banyak Startup Melakukan PHK?
Banyak startup melakukan PHK karena berbagai faktor, mulai dari perekrutan karyawan yang terlalu agresif saat euforia pertumbuhan, pertumbuhan pendapatan yang melambat, perubahan cara investor menilai kinerja, rasio pendapatan per pegawai yang tertekan akibat overhiring, asumsi keliru soal perilaku konsumen pasca pandemi, hingga ketakutan kehabisan talenta digital.
Berikut adalah penjelasannya:
1. Perekrutan Terlalu Agresif Saat Euforia Pertumbuhan
Salah satu alasan utama banyak startup melakukan PHK adalah kesalahan strategi perekrutan di masa lalu.
Pada periode sebelum perlambatan ekonomi, banyak startup berada dalam fase euforia pertumbuhan.
Lonjakan permintaan, optimisme pasar, dan akses pendanaan yang relatif mudah mendorong perusahaan merekrut karyawan dalam jumlah besar.
Masalahnya, perekrutan tersebut dilakukan dengan asumsi bahwa pertumbuhan bisnis akan terus berlanjut.
Ketika realitas ekonomi berubah, struktur organisasi yang terlanjur gemuk menjadi beban.
PHK pun dipilih sebagai cara cepat untuk menyesuaikan ukuran tim dengan kebutuhan bisnis yang sebenarnya.
2. Pertumbuhan Pendapatan Melambat, Bukan Karena Biaya Membengkak
Banyak perusahaan mengklaim PHK dilakukan demi efisiensi biaya.
Namun menurut Profesor Jeffrey Pfeffer dari Stanford Graduate School of Business, persoalan utama bukan terletak pada biaya, melainkan pada pendapatan yang tidak lagi tumbuh seperti sebelumnya.
Ketika pendapatan melambat atau menurun, beban gaji yang sebelumnya masih tertutupi menjadi terlihat besar.
Dalam kondisi ini, perusahaan cenderung memangkas karyawan, meskipun langkah tersebut tidak serta-merta menciptakan sumber pendapatan baru dan bahkan berisiko menurunkan kinerja jangka panjang.
3. Perubahan Cara Investor Menilai Kinerja Startup
Michael Cusumano dari MIT Sloan School of Management menyoroti perubahan sudut pandang investor sebagai faktor penting di balik maraknya PHK.
Di masa pertumbuhan tinggi (hyper-growth), investor tidak terlalu menuntut profitabilitas. Fokus utama adalah ekspansi dan peningkatan skala bisnis.
Namun ketika laju pertumbuhan melambat, investor mengalihkan perhatian ke efisiensi. Salah satu indikator yang paling diperhatikan adalah pendapatan per pegawai.
Jika jumlah karyawan bertambah tetapi pendapatan tidak meningkat sebanding, maka rasio ini menurun dan memicu kekhawatiran investor serta manajemen.
4. Rasio Pendapatan per Pegawai Tertekan Akibat Overhiring
Selama pandemi, banyak startup merekrut karyawan secara agresif untuk mengejar peluang pasar digital.
Ketika kondisi pasar berubah, jumlah karyawan yang besar tidak lagi sejalan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan.
Akibatnya, rasio pendapatan per pegawai menurun tajam.
Dalam kacamata investor dan manajemen, hal ini menjadi sinyal bahwa organisasi terlalu gemuk.
PHK kemudian dipandang sebagai cara untuk memperbaiki rasio tersebut, meskipun dampaknya tidak selalu sesuai harapan.
5. Asumsi Keliru soal Perilaku Konsumen Pasca Pandemi
Banyak startup juga melakukan PHK karena salah membaca arah perubahan perilaku konsumen.
Selama pandemi, aktivitas digital meningkat tajam dan mendorong pertumbuhan bisnis berbasis teknologi.
Namun, ketika pembatasan berakhir, konsumen relatif cepat kembali ke aktivitas offline. Permintaan terhadap layanan digital tidak setinggi yang diproyeksikan sebelumnya.
Ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas ini membuat kapasitas tim yang besar menjadi tidak relevan, sehingga PHK dianggap sebagai langkah penyesuaian.
6. Ketakutan Kehabisan Talenta Digital
Dalam konteks Indonesia, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, menjelaskan bahwa banyak startup merekrut karyawan lebih awal dan lebih banyak dari yang dibutuhkan karena khawatir kehilangan talenta digital.
Persaingan mendapatkan SDM teknologi mendorong perusahaan “mengamankan” talenta sebelum benar-benar dibutuhkan.
Namun ketika ekonomi mengetat, startup menyadari bahwa sebagian peran tersebut belum memiliki urgensi bisnis.
Rasionalisasi pun dilakukan melalui PHK agar perusahaan bisa tetap beroperasi secara berkelanjutan.
.
.




