Amity Group: Ambisi Cucu Taipan Agribisnis untuk Dominasi AI B2B di ASEAN
Sumber Foto: IDNFinancials
Ekonomi

Amity Group: Ambisi Cucu Taipan Agribisnis untuk Dominasi AI B2B di ASEAN

JAKARTA – Startup kecerdasan buatan (AI) asal Thailand, Amity Group, yang fokus pada solusi AI untuk perusahaan (business-to-business/B2B), muncul sebagai penantang baru dalam peta teknologi Asia Tenggara yang selama ini didominasi oleh pemain teknologi konsumen dari Singapura dan Indonesia.

Di balik Amity berdiri Korawad Chearavanont, cucu taipan agribisnis Dhanin Chearavanont, pendiri Charoen Pokphand (CP) Group.

Berbeda dari tren umum startup regional yang membidik pasar konsumen, Korawad secara konsisten mengarahkan Amity ke segmen AI enterprise, dengan ambisi membangun perusahaan AI B2B kelas dunia dari Asia Tenggara. “Belum benar-benar ada perusahaan teknologi global yang lahir dari Asia Tenggara di sektor B2B,” ujar Korawad.

Dikutip dari businesstimes.com, ketertarikan Korawad pada teknologi terbentuk sejak dini. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kunjungannya ke kantor pusat Alibaba pada 2004, saat ia masih berusia 10 tahun. “Kakek saya mengirim saya bersama sebuah tim ke kantor pusat Alibaba untuk belajar dan bertemu Jack Ma. Itu pengalaman yang luar biasa,” katanya.

Paparan awal terhadap dunia teknologi, ditambah pengalamannya bekerja di bisnis pusat data milik keluarga, mendorong Korawad keluar dari Columbia University pada 2015 untuk membangun startup sendiri.

Ia memulai Eko pada 2012, yang kemudian bertransformasi menjadi Amity pada 2020 setelah mengakuisisi ConvoLab, perusahaan pengembang teknologi pemrosesan bahasa alami (NLP). Akuisisi tersebut menjadi tonggak penting, terutama setelah pendiri ConvoLab, Touchapon Kraisingkorn, bergabung dan memimpin pengembangan teknologi AI Amity.

Kinerja Amity di bidang AI generatif untuk kebutuhan korporasi bahkan mendapat sorotan langsung dari CEO Microsoft, Satya Nadella, dalam ajang Microsoft Build Conference 2024.

Lonjakan terbesar Amity terjadi seiring meluasnya adopsi AI generatif secara global sejak peluncuran ChatGPT pada akhir 2022. Korawad mengungkapkan perusahaannya membutuhkan waktu hampir satu dekade untuk mencapai pendapatan US$10 juta, namun hanya dua tahun untuk melesat melampaui US$100 juta.

“Terus terang, kami membutuhkan 10 tahun untuk mencapai pendapatan US$10 juta,” ujarnya.

Strategi Amity tidak berfokus pada penciptaan aplikasi AI baru untuk konsumen, melainkan pada pengintegrasian teknologi GenAI ke dalam perangkat lunak perusahaan yang sudah ada. Pendekatan ini dijalankan melalui akuisisi perusahaan-perusahaan yang memiliki basis data besar, tetapi belum memanfaatkannya secara optimal.

Salah satu akuisisi strategis Amity adalah Tollring, perusahaan analitik komunikasi asal Inggris dengan basis klien puluhan ribu perusahaan di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

Menurut manajemen, akuisisi tersebut memberikan keuntungan ganda. Amity memperkaya produk Tollring dengan kapabilitas GenAI, sementara Tollring menyediakan basis data dan pelanggan enterprise yang luas.

“Pandangan kami adalah membeli perusahaan dengan valuasi yang wajar, lalu memanfaatkan data serta basis pelanggan untuk menciptakan kembali solusi dengan sentuhan GenAI,” kata CEO Grup Amity, Keng Teik Koay.

Ke depan, Amity menargetkan konsolidasi lanjutan di Eropa dan Inggris, serta tengah mempersiapkan putaran pendanaan pra-IPO. Perusahaan berencana mengajukan pencatatan saham pada 2026 dan melantai di bursa pada 2027.

Meski IPO akan menjadi jalan keluar bagi sebagian investor, Korawad menegaskan hal itu bukan akhir perjalanannya. “Keluarga saya telah menjalankan agribisnis selama 104 tahun, jadi kami tidak memikirkan soal exit. Saya memiliki pola pikir yang sama. Kami terus berjalan,” ujarnya.

Ambisi Korawad pun terbilang besar. Ia mengungkapkan pesan sang kakek sebagai tolok ukur kesuksesan di industri AI global. “Kalau nilai perusahaan Anda belum setidaknya US$20 miliar, Anda belum bisa disebut sebagai perusahaan AI yang sesungguhnya,” kata Korawad, merujuk pada standar valuasi pemain AI kelas dunia seperti OpenAI. Baca selengkapnya di sini. (DH)